Minggu, 01 Februari 2026

Camat Padang Selatan Jeput Aspirasi dengan Progran Kopi Magrib

 selaku kepala pemerintahan daerah di kecamatan Bapak camat Padang Selatan melakukan  road show ke semua kelurahan dengan kegiatan kopi maghrib dimana kegiatan ini menjadi ajang jepit aspirasi kepada masyarakat kelurahan melalui orang perangkat kelurahan,  LPM, RT, RW dan Tokoh Masyarakat yang ada di kelurahan, kegiatan Kopi magrib ini dilaksankan di Rumah ketua RW 05 buk Allely, 

kegiatan jemput aspirasi merupakan program di gagas oleh pak. camat dengan nama program KOBAR SELATAN MENYALA, (Kopi Bareng kecamatan Padang Selatan dan menyerap aspirasi menyambung silaturrahmi, Selain menyerap aspirasi tentunya program ini juga penguatan program unggulan kota Padang, karena Seberang  Palinggam berada di kawasan pariwisata, namun juga perlu di waspadai Bukit lantiak yang perlu di jaga karena rawan bencana, maka perlu dijaga dengan untuk menjaga kawasan bukit terjaga dengan baik akan dibuatkan program kawasan agro wisata. kemudian juga salah satu kegiatan yang paling penting adalah normalisasi Barang Arau akan dijadikan kawasan wisata. 

dari jemput aspirasi di seberang palinggam masukan dari ketua RT 04 RW 02 pohon pelindung yang Anda dipinggir jalan perlu di relokasi  karena akarnya sudah menganggu  jalan sebab akarnya membuat jalan retak, kemudian kontainer sampah  juga perlu diperhatikan agar sampah  tidak menganggu masyarakat. 

pak camat meminta masyarakat seberang palinggam senantiasa mbangun komunikasi yang baik dengan pemerintahan serta mendukung program pemerintahan kecamatan terutama program yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan dan menjaga  ketertiban agar keharmonisan diseberang palinggam terus terjaga, kemudian juga pak camat Padang Selatan bangga dengan kerukunan yang tercipta diseberang Palinggam karena setahunya seberang palinggam masyarakatnya heterogen dengan latar belakang budaya yang beragam, etnis yang beragam termasuk juga agama namun tetap bersatu untuk seberang palinggam. 

(syamsurizal, @raahata) 





Kamis, 29 Januari 2026

LESTRAIKAN BUDAYA MINANG DENGAN SILAT TRADISI


Budaya merupakan sebuah kebiasaan baik yang menjadi acuan dalam tatanan bermasyarakat dilahirkan dari orang orang yang senantiasa ingin akan adanya kebaikan dan keserasian dalam menjalankan fungsi sosial di tengah masyarakat, kebudayaan yang berkembang di berbagai daerah yang ada di provinsi Sumatera Barat sesuai dengan langgam daerah namun secara umum di semua daerah  sama walau ragamnya saja yang sedikit berbeda, seperti budaya dalam bentuk seni, tradisi dan juga pelaksanaan agama, yang semuanya itu ada unsur penanaman nilai karakter dan nilai pendidikan

salah satu dari tradisi yang berkembang dulunya adalah silat, di mana silat tersebut menjadi tempat melatih fisik dalam bentuk gerak  melatih kekuatan fisik mereka jauh dari pada itu silat juga melatih kemampuan berfikir dan mengolah rasa akhirnya terbentuklah karakter masyarakat minang  raso pareso, (raso di baok naik pareso di baok turun) pepatah ini menjadi salah satu kekuatan bagi pesilat dalam. beraktivitas pada kehidupan sehari hari.

kemudian juga silat ini menjadi salah satu bekal bagi masyarakat minang pergi merantau, sebelum mereka mampu melatih diri, secara lahir dan bathin maka belum di izinkan untuk pergi merantau, penanaman tradisi ini dilaksanakan oleh orang tua atau ninik mamak dikampung agar anak kemenakan mereka di rantau akan bisa jalani aktifitas dengan baik  agar berhasil mencapai kehidupan lebih baik. 

namun seiring berjalannya waktu silat tradisi ini mulai memudar di semua daerah yang ada di Sumatera Barat, ini terjadi karena beberapa hal, pertama, berkembang nya teknologi yang merambah sampai ke rumah dan kesemua. lapisan masyarakat,  tua, muda, remaja dan anak anak semua sudah pegang teknologi di tangannya dalam bentuk Handphone (HP), sehingga mereka sudah merasa dengan HP tersebut sudah bisa lakukan semua hal dalam kehidupan dan lupa bahwa ilmu dan karakter itu penting untuk menjadi manusia sebagai makhluk sosial. Kedua, sulitnya mencari guru silat karena satu sisi mereka harusenuhi kebutuhan hidupnya satu sisi yang mau diajarkan peminatnya sudah sangat kurang sekali, Ketiga banyaknya Olah raga bela diri yang mudah dan cepat dipahami oleh anak anak apalagi banyak film yang mempertontonkan seni bela diri yang berasal dari negara lain, seperti taekwondo, karate, tarung drajat, sementara bela diri silat yang berkembang juga hanya silat untuk dipertandingkan, (sekedar menangkis dan mengelak saja). keempat kurangnya suport dari pemerintah untuk melestarikan budaya terutama silat tradisi yang sebelumnya menjadi kebudayaan bagi para remaja untuk. menempa diri mereka secara fisik maupun secara rohani. 

berangkat dari hal. hal itu pemerintah Provinsi Sumatera Barat, melalui wakil Gubernur Provinsi Sumatera Barat Vasco Rusaimy,  kembali menggerakkan  Silat Tradisi menjadi warisan budaya lokal yang  perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi muda minang, maka silat tradisi menjadi ekskul wajib di semua sekolah SMA DAN SMK Negeri maupun swasta  di Sumatera Barat. 

keseriusan wakil gubernur untuk melestarikan silat tradisi maka melalui dinas pendidikan Provinsi Sumatera maka pada hari Sabtu 24 Januari 2025 di halaman kantor Gubernur dilaksanakan lounching silat tradisi menjadi eskul wajib di sekolah SMA dan SMK se Sumatera Barat, Lounching silat tradisi ini di buka langsung oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasco Rusaimy yang dihadiri oleh Drs. Muhidi MM selaku Ketua DPRD Provinsi Sumatera barat serta Kepala Dinas Provinsi Sumatera Barat serta kepala Cabang dinas  Wilayah 2 dan kepala SMA dan SMK, SLB negeri dan swasta Se kota Padang.  Pada lounching tersebut  Wakil Gubernur mengajak generasi muda minang kembali mengasah dan menempa diri mereka dengan belajar silat tradisi di sekolah, agar karakter minang tetap terjaga dan menjadi jati diri orang minang.

Semoga niat pemerintah provinsi Sumatera Barat terwujud untuk melestarikan silat tradisi Minang demi masa depan anak kemanakan di masa akan datang, (Rahata)




Kamis, 12 Januari 2023

SEGITIGA RESTITUSI

 

Kalau kita makai kata Restitudi secara umum memiliki pengertian menganti bagian yang hilang atau perbaikan yang rusak, namun jika kita bawakan kata Restitusi ke Ranah akademik maka kata Restitusi akan bermakna sebagai Proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004).

Restitusi merupakan bentuk dari disiplin diri yang diawali dari kemampuan memaknai kesalahan yang dilalukan sehingga restitusi merupakan salah satu metode dalam menyusun model disiplin yang akan diterapkan di sekolah. Agar disiplin yang dilakukan disekolah menjadi sebuah hal yang positif tentunya perlu kita memahami masalah timbal balik serta mengetahui penyebab, dan siapa sebenarnya yang salah. 

Maka oleh sebab itu tentunya kita perlu memahami latar belakang murid yang sangat berbeda antara satu sama lainnya sehingga kita bisa melaksanakan segitiga restitusi kepada siswa secara efektif, agar segera restitusi bisa efektif dijalankan maka diperlukan sebuah keyakinan bersama yang bisa disepakati untuk menjadi rujukan disaat akan memberikan konsekuensi kepada siswa pada saat mereka melakukan kesalahan dan di modul guru penggerak dinamakan KEYAKINAN KELAS, 

Segi tiga Restitusi memiliki landasan filosofis yang perlu menjadi pijakan dalam melaksanakan restitusi kepada siswa yaitu :

a. Kesalahan adalah hal yang normal
b. Manusia sering tidak tahu jika mereka berbuat salah
c. Pada saat manusia disalahkan, ia menjadi lebih kuat
d. Restitusi memperkuat individu
e. Restitusi membuat individu merasa dihargai dan percaya terhadap diri sendiri
f. Individu yang tumbuh dalam proses restitusi cenderung tidak melakukan hal yang sama kepada orang lain. 



Diane Gossen memberikan strategi untuk melakukan restitusi dengan segitiga restitusi. Segitiga ini akan membantu memahami perilaku murid dan membimbing murid untuk belajar dari kesalahannya dan menjadi individu yang lebih baik. Berikut adalah sisi-sisi segitiga restitusi, Proses segitiga restitusi pertama Menstabilkan identitas murid, kedua memvalidasi perilaku murid yang salah, ketiga menanyakan keyakinan murid. 

Dari tiga strategi tersebut kita akan menemukan murid yang mampu keluar dari masalah nya sendiri dan mampu mencari solusi dari kesalahannya sesuai dengan keyakinan yang sudah disepakati dari awal, sehingga apabila terjadi kesalahan yang sama siswa akan mau menerima konsekuensi dari kesalahan nya dengan baik.

Rizal76



Rabu, 18 Mei 2022

LOKAKARYA KURIKULUM MERDEKA MENGUATKAN VISI SEKOLAH BERPIHAK PADA MURID

 

Menjelang akhir semester genap setiap sekolah melaksanakan kegiatan workshop atau lokakarya guru untuk menyusun kegiatan pelajaran tahun berikutnya dan menjadi palaksana kegiatan adalah wakil bidang kurikulum dengan tim pokjanya. 

Begitu juga di SMAN 8 Padang juga melaksanakan kegiatan Lokakarya guru dengan Tema, "Meningkatkan Pahaman Guru dan tenaga Pendidikan tentang kurikulum merdeka di Sekolah Penggerak agar terwujudnya sekolah yang menyenangkan", yang dilaksanakan dari tanggal 17 s. d 21 Mei 2022. Dipilihnya tema ini dikarenakan SMAN 8 merupakan salah satu Sekolah Penggerak yang sudah di SK kan oleh Kementrian Pendidikan Kebudayaan dan Ristek  pada bulan Januari tahun 2022.

Karena lolos seleksi sebagai sekolah penggerak tentunya kepala sekolah beserta warga sekolah harus berbenah karena akan banyak perubahan yang akan dilakukan dan untuk melakukan akan sulit jika warga sekolah tidak memahami alur paradigma transformasi pendidikan yang di lakukan oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan ristek dan teknologi, maka melalui Lokakarya ini sekolah mencoba merubah mind set guru dan tenaga ke pendidikan dengan memberikan pemahaman kurikulum merdeka dan merdeka belajar di SMAN 8 padang ujar Bapak kepala sekolah (zahroni, M. Pd) dalam sambutannya saat pembukaan kegiatan Lokakarya hari selasa tanggal 17 Mei 2022.





Kegiatan Lokakarya SMAN 8 Padang dibuka oleh Bapak kepala Dinas Pendidikan (Drs. Barlius, MM) dalam sambutan pembukaan bapak kepala dinas berpesan agar mengawali kegiatan perancangan program tahun berikutnya dimulai dengan menganalisa rapor mutu pendidikan sekolah, dimana pada rapor mutu yang sangat urgen diperbaiki adalah pelajaran yang berkaitan dengan Literasi dan  Numerasi, sehingga dalam pembuatan capaian pembelajaran rapor nuansa Literasi diperkuat. 

Kemudian Bapak kepala Dinas Pendidikan juga meminta guru berperan aktif untuk mengembangkan kurikulum merdeka dengan mengimplementasikan dalam pembelajaran dikelas sehingga siswa terlayani dengan baik dalam mencapai kodratnya sesuai dengan bakat dan minat mereka. Yang tak kalah pentingnya menurut bapak kepala dinas adalah bagaimana sekolah benar benar memahami profil pelajar pancasila sebagai acuan karakter secara nasional yang harus dikuasai dan tertanam dalam jiwa dan sanubari siswa secara utuh. 

Untuk menamakan karakter profil pelajar Pancasila perlu kesabaran, kekuatan dan kreatifitas guru dalam berinovasi sehingga terwujud sekolah yang menyenangkan dengan demikian sekolah akan menjadi tempat yang baik untuk tumbuh kembang murid dengan baik sesuai yang mereka inginkan dan butuhkan. 

Pada kegiatan loka karya SMAN 8 ada hal yang sangat menarik dan itu belum pernah dilaksanakan oleh sekolah lain yaitu "Lounching buku karya guru SMAN 8 dengan judul Bunga Rampai, PBL  Sebagai Basis Sekolah Penggerak"  Yang berisikan tentang teknik pelajaran based leraning dan menumbuhkan budaya postif disekolah melalui disiplin positif. 


Sebagai karya sekolah penggerak makan buku ini akan dijadikan sumber belajar bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang berbasis proyek, dan akan terbit berikutnya pembelajaran  diferensiasi akan menyenangkan siswa dalam belajar. 

Kemudian juga pada hari kedua kegiatan lokakarya peserta lebih banyak diberikan pemahaman tentang kurikulum merdeka dan bagaimana cara mengimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran dikelas. 

Semoga paradigma kurikulum merdeka dan merdeka belajar bisa dipahami dengan baik oleh guru dan tenaga kependidikan sehingga akan mudah melaksanakan pelajaran didalam kelas nantinya ujar waka kurikulum sebagai ketua pelaksana kegiatan dan insya Allah kegiatan ini akan ditutup pada hari sabtu dengan kegiatan outbond yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan emosional yang baik sehingga akan mudah membangun  kolaborasi dalam  menggerakkan sekolah untuk melayani siswa sesuai dengan visi sekolah. 



Kamis, 14 April 2022

MENUMBUHKAN BUDAYA POSTIF

MENUMBUHKAN BUDAYA DISIPLIN POSITIF DISEKOLAH

Oleh Syamsurizal, S.Hum CGP angkatan 4 kota Padang, asal sekolah SMKN 3 Padang

 


                                               Sekolah merupakan rumah kedua bagi siswa, karena
Sebagian besar waktu anak diisi dengan beraktivitas di sekolah. Karena itu penting untuk menciptakan  sekolah sebagai lingkungan yang menyenangkan bagi anak, dimulai dari sejak awal masuk sekolah hingga anak-anak lulus dari satuan pendidikan.  Sedangkan guru juga merupakan orang tua kedua bagi anak yang peranannya juga sanagat penting dalam pertumbuhan belajar anak salah satu peranannya adalah dalam memberikan bekal ilmu. Terlebih lagi, guru dinilai sebagai sosok yang berpendidikan yang diharapkan mampu mendidik anak bangsa untuk masa depan.

Namun harapannya, tidak sekedar mendidik dan memberikan materi akademik saja di sekolah. Peran guru lebih dari itu. Guru diharapkan juga dapat menanamkan nilai-nilai positif pada murid, karena guru akan digugu dan ditiru (role model) bagi para murid. Maka, dari itulah mengapa guru memiliki peran yang besar dalam menumbuhkan dan pembentukan budaya postif  bagi murid.

Sebelum kita masuk ke budaya postif apa, yang perlu dikembangkan disekolah perlu kiranya memahami terlebih dahulu apa itu budaya, budaya itu suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh sekelompok orang, kemudian diwariskan kepada generasi selanjutnya. Selain itu, Budaya merupakan suatu pola hidup secara menyeluruh. Budaya memiliki sifat abstrak, kompleks, dan luas. Sementara menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Budaya adalah sebuah pemikiran, akal budi atau adat istiadat. Jadi budaya adalah sebuah pola hidup yang muncul dari akal dan budi manusia berupa nilai nilai yang dianggap baik dan perlu dilaksanakan secara terus menerus.

Agar nilai nilai yang dianggap baik dan perlu dikembangkan disekolah,maka sebaiknya para guru memulai dari dirinya dengan melakukan pembiasaan pembiasan budaya positif yang sudah ada disekolah sehingga menjadi terbiasa. Salah satu contohnya adalah disiplin.

Berbicara disiplin selalu terbayang di ingatan kita adalah  tata tertib dan kepatuhan, dan juga sering dihubungkan oleh sebahagian orang dengan hukumuman atau ancaman, sedangkan disiplin menurut budaya kita kata “disiplin” dimaknai dengan menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang kepada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan dan kita sering menghubungkan kepatuhan dengan ketidak nyamanan (modul,2.1 CGP). Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara Menyatakan Bahwa “ Dimana ada kemerdekaan disitulah harus ada disipin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat “Self Dicipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras kerasnya. Tetapi itu sama saja, sebab jikalau kita tidak cakap melakukan Self Dicipline wajiblah penguasa lain mendisiplinkan. Dan peraturan demikianlah harus ada di dalam suasana merdeka.” (Ki Hajar Dewantara dalam Modul 2.1 /LMS 1.4)

Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa mencapai kemerdekaan atau dalam kontek pendidikan kita saat ini untuk menciptakan murid merdeka harus disiplin yang kuat.disiplin yang dimaksud adalah disiplin yang memiliki motivasi internal. Jika tidak memiliki motivasi internal, maka kita memerlukan orang lain untuk mendisiplinkan kita atau motivasi eksternal.lebih lanjut Ki hajar Dewantara mengatakan Merdeka Itu adalah “Mardikaiku jarwanya, nora mung lepasing pangreh, nging uga kuwat kuwasa amandiri priyangga (merdeka itu artinya tidak hanya terlepas dari perintah; akan tetapi juga cakap buat memerintah diri sendiri).

Pemikiran Ki Hajar dewan tara ini sejalan dengan pandangan  Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001, Diane menyatakan arti dari kata Disiplin berasal dari bahasa latin “Disciplina” yang artinya “belajar” kemudian kata Disciline bersal dari kata yang sama yeng berarti “Disciple” atau murid/pengikut, kemudian Diane melanjutkan bahwa kata Disiplin juga bisa diartikan seorang menggali potensi diri, bagaimana mengontrol diri,dan menguasai diri mengacu kepada nilai nilai yang kita hargai.

Jadi seseorang yang memiliki disiplin  diri berarti dia bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukanya, kerena mereka melakukan tindakan  berdasarkan nilai nilai kebajikan yang universal. Sebagai Guru (Pendidik) kita memiliki tujuan bagaimana siswa/murid  memiliki disiplin diri sehingga  mereka bisa berprilaku dengan mengacu kepada nilai nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi instrinsik dan ekstrinsik.

Budaya positif yang akan kita tumbuhkan adalah displin postif, dimana disiplin i ini akan terwujud disekolah apabila ada motivasi prilaku manusia, terkadang murid disiplin karena menghindari hukukuman,mendapatkan imbalan atau pujian dan ingin menjadi yang terbaik dan menghargai diri sendiri dengan nilai nilai yang mereka percayai, untuk menumbuhkan dan mencipkan budaya dan disiplin positif ada beberap cara:

1.    Memulai dari diri

Untuk menumbuhkan budaya postif tentang disiplin postif disekolah sebagai guru tentu kita mulai dari diri kita dengan menunjukkan kepada siswa  bahwa kita senantiasa melakukan kegiatan disekolah sesuai dengan ketentuan yang ada dan melaksanakannya secara terus menerus karena kita memiliki nilai budaya dan keyakinan tentang apa yang kita lakukan adalah sebuah tanggung jawab. Contohnya datang kesekolah tepat waktu. Jika kita sudah menyakini bahwa datang tepat waktu adalah sebuah nilai disiplin positif yang adatang dari dalam diri kita maka kita akan melaksanakannya dengan senang hati tanpa ada paksaan dari siapapun karena datang tepat waktu adalah kebutuhan untuk bisa sukses menunutut ilmu.

Motivasi yang perlu dikembangkan pada konsep ini adalah menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang dipercayai, artinya jika motivasi ini ada dalam diri kita masing masing maka akan terwujud budaya disiplin positif disekolah.

2.   Membangun Kolaborasi  antara murid, guru dan orag tua.

Kolaborasi itu penting untuk mencapai hasil terbaik saat menyelesaikan masalah yang rumit. Agar kolaborasi dapat berhasil, diharuskan untuk mengidentifikasi kapan dan bagaimana berkolaborasi. Hal ini bisa dicapai dengan berlatih. Begitu pula pemahaman tentang mitra kerja sama. Dibutuhkan pemahaman dan penghargaan pada keahlian, kompetensi serta karakter orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan kolaborasi yang tertinggi dapat diraih ketika kolaborasi itu melibatkan orang-orang dengan beragam gaya belajar, nilai-nilai, budaya, pendidikan dan latar belakang pekrjaan yang berlainan. Orang-orang tersebut akan menghadirkan pemikiran yang benar-benar berbeda dan akibatnya suatu persoalan akan ditangani dari berbagai segi. Akan tetapi, agar kolaborasi di level ini bisa berjalan efektif, dibutuhkan kepercayaan dan rasa saling menghormati.

Melakukan perubahan disekolah maupun dikelas tidak akan bisa kita lakukan sendiri pasti kita butuh orang lain, dalm rangka menumbuhkan budaya postif disekolah maka perlu guru bekolaborasi dengan kepala sekolah, dan murid sehingga budaya disiplin positif yang akan kita wujudkan tercapai dengan baik.

3.   Menbuat keyakinan kelas

Setiap tindakan atau perilaku yang kita lakukan di dalam kelas dapat menentukan terciptanya sebuah lingkungan positif. Perilaku warga kelas tersebut menjadi sebuah kebiasaan, yang akhirnya membentuk sebuah budaya positif. Untuk terbentuknya budaya positif pertama-tama perlu diciptakan dan disepakati keyakinan-keyakinan atau prinsip-prinsip dasar bersama di antara para warga kelas. Penyatuan pemikiran untuk mendapatkan nilai-nilai kebajikan serta visi sekolah tersebut kemudian diturunkan di kelas-kelas menjadi keyakinan kelas yang disepakati bersama.

 Nilai nilai kebajikan yang bersifat universal dan disepakati bersama sama secara universal, lepas dari suku, ras, bangsa dan agama, keyakinan akan lebih memotivasi seeorang dari dalam diri, atau motivasi Instrinsik, maka seseorang akan tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya dari pada hanya sekedar menjalankan atau mentaati peraturan.siswa pun juga begitu mendegarkan dan mendalami tentang keyakinan dari pada hanya mendengarkan peraturan yang akan mengatur mereka dan menhilangkan kemerdekaan.

Oleh sebab itu Paradigma baru belajar adalah bagaimana guru bisa membangun budaya dengan disiplin positif  dengan membuat keyakinan, yang dibuat secara kolaborasi antara guru dan murid dikelas.

 REFLEKSI

  1. Setelah Pembelajaran hari ini saya akhirnya  memahami bahwa yang saya lalkukan selama ini disekolah jauh dari sempurna maka dengan materi ini saya akan lebih baik.
  2. Setelah belajar hari ini saya akhirnya mengetahui, paradigm baru pendidikan dengan menumbuhkan budaya disiplin positif mengawali  dengan keyakinan kelas
  3. Setelah pembelajran ini target saya akan mengembangkan budaya positif dengan disiplin Positif dan merubah kesepakatan kelas dengan keyakinan kelas
  4. Persaan saya setelah belajar modul 1.4 ini senang dan bahagia karena saya mendapatkan cara baru dalam mendisiplikan siswa tanpaharus berteriak dan lain sebagainya








Senin, 28 Maret 2022

CLOSING PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI

 

Malam ini tanggal 28 maret 2022 adalah ujung dari pelatihan menulis yang digagas oleh om jay dan tim TIK PGRI untuk membantu para guru agar bisa mewaqafkan diri mereka untuk menjadi penulis mencerdaskan bangsa melalui goresan tinta yang bermakna di setiap buku dan media online yang mereka punya.

sebagai guru  disekolah sejak dulu saya lebih cenrung untuk menulis namun karena lebih besar pengaruh jadi relawan bagi fakir miskin dan anak yatim maka impian menulis terkubur seiring dengn fokusnya kegiatan sosial, namun karena guru sudah menjadi pilihan tuhan bagi saya maka semanagt menuis dan memnbaca selalu ada dalam sanubari. yang akhirnya saya bisa  lulus PLPG tahun 2012 maka tentunya pekerjaan guru ini  harus serius dan fokus maka setelah 8 tahun berproses maka muncul transpormasi pendidikan melalui program kampus merdeka dan kurikulum merdeka.

kurikulum merdeka ini disanding dengan program guru penggerak, dan seteah saya mengikuti kegiatann ini ternayata di awla kita sudah disuruh menulis dan bercerita pengalaman, ini menjadi tanangan bagi saya karena meceritakan pengalaman baik dalam mengajar  dituliskan di LMS, dan ternyata sangat sulit juga. namun alhamdulillah pada angkatan 4 saya diberi oleh allah kesmepatan untuk mengubtudate ilmu dengan  mengikuti kegiatan tersebut.

dalam kegiatan PGP ini alhamdulillah saya dipertemukan dengan Om jay melalui Zoom Metting dengan BM PGRI bersama Bapak Kasiman pada hari minggu saya mengikutinya dengan baik dan diakhir kegiatan om jay memberikan pelatihan menulis gratis dengan syrat nya mengisi formulis dan membuat blog alhamdilllah saya bisa mengikutinya.

dari pertemuan pertama kedua, ketiga sampai pertemuan ke 30 materinya sangat terstruktur bangat dan membuat hati dan pikira kita terpacu dan terpicu untuk menjadi pengiat literasi baik untuk diri, dan orang lain, ternyata saya bertemu dengan nara sumber hebat, moderator baik dan santun, tim solid omjay yang penyabar dan penuh inovasi selalu memberikan penguatan penguatan untuk terus berkarya walau hanya dnegan Blog.

akhirnya pada pertemua ke 20 saya mencoba untuk menulis tentang kegiatan sekolah dan ternyata di supoart sahabat dan teman teman dan akhirnya  saya sudah memiliki 2 komunitas literasi satu untuk guru dan satu lagi dengan siswa.

akhirnya setelah selesai pertemuan ke 30 pada hari senin tanggal 28 Maret 2022 om jay dan tim solid melakukan kegiatan closing of cereminy dengan kepanitiannya di daulat kepada Bapak Sigit dan buk Dwi yanti  serta buk ofi dan tim kreator serta tim testimoni, walau saya tidak ada dilam tim testimoni tapi saya bahagia dan senang memiliki teman dan sahabat hebat di nusantara.

pada penutupan kegian BM PGRI ini  adala beberapa sabutaan yang diberikan oleh para tokoh PB PGRI yang sudah memberi ruang dan waktu untuk kami peserta ber improfisasasi dan berkreasi dalam tulisan, pertama sambutan dari pengurus PB PGRI Bapak DR Jejen  memberikan motivasi  dengan sebuah bahasa jadilah orang yang kinsisiten menulis dan membaca, sebagai guru tidak ada alsaan untuk tidak menulis, karena iterasi menulis adalah dua hal yang tidak beisa dipisahkan dari seoran guru maka jadilah guru yang reflektif dan inovatif dalam mendidik murid.

kemudian om Bram salah satu narasumber memberikan sebuah bahasa pemantik jiwa kita bahwa menulislah dalam hati dan menulislah disetiap hati maka kita kan menjadi orang yang terbaik sepanjang masa untuk orang lain, artinya mulailah dari orang terdekat untuk dan kuatkanlah pasangan kita maka kita akan menajdi kuat untuk orang lain.

kalimat om Bram dilanjutkan oleh Om jay memrikan sebuah sambutan yang sangat mengguah kita dimana om jay selalau menyeru dan mengajak kita janganlah berhenti menulis, karena dengan menulis akan terbangun silaturrahmi yang kuat dan dengan silaturrahmi yang kuat kita akan dimudahkan oleh Allah, terbukti banyak kemudahan kemudahan yang ditemukan oleh om jay dengan menulis, maka menulislah sesuai dengan minat dan bakat kita setelah itu konsisten menjadi kunci untuk menulis.

sambutan terakhir dierikan kepada Prof Ngainum Naim, MPd mengakatan dalam bukunya guru inspritaif bahwa ada 3 tipe guru disekolah yang perlu kita sikapi dengan arif dan bijak sana yaitu :

1. Guru dikenang karena guru tersebut arogan, pemarah dan menyakitkan bagi murid guru dikenang karena kebaikannya kepada murid
2. Guru Inspiratif yang selalu memrikan yang terbaik untik muridnya dan setiap belajar ada hal yang baru yang selalau diberikan kepada siswa serta pembelajarannya dilaksanakan dengan menyenangkan
3. guru biasa-biasa saja artinya guru ini tidak memiliki atensi dalam perekembangan siswa di sekolah

oleh sebab iu sebagai peserta Pelatihan BM PGRI gelombang 23-24 jangan berhenti menulis sekalipun telah diclosing dan jadilah orang yang konsisten menulis dan membaca agar ilmu dan pengetahuan kita bertambah dan akan memudahkan kita dalam menulis, kemudian sebagai peserta Gelombang 23-24 jadilah guru yang berada pada garda tertepat menguatkan bangsa ini dengan menggerakkan literasi disekolah dan diamana saja tempat yang kita lewati dalam bermasyarakt. karena "hakikat dari membaca adalah menulis, sedangkan wujud dari menulis adalah menerbitkan buku, serta implementasi terbitan buku adalah membuat Taman baca masyarakat."

setelah dikahiri kegiatan BM PGRI angkatan 23-24 ini dengan doa bersama maka diumumkanlah peserta terbaik dan tim solid PGRI yang diberikan penghargaan oleh Peserta : untuk gelombang 23 diberikan kepada sahabat terbaikku yang selalu berikan komentar di Blog saya yaitu  Bapak SIGID, Buk DWI YANTi dan Bapak FRANSISCO teman berpacu kirimkan blog dan selalu menyemangti saya duntuk menerbitkan buku solo selamat sahabat smoga konsisten selalu dalam menulis.




Jumat, 25 Maret 2022

MENGELOLA TAMAN BACAAN

 

RESUME KE 30

Tema                    : Mengelola Taman Bacaan
Narasumber          : Bambang Purwanto, S.Kom, Gr
Moderator            : Rosminiyati
Pukul                    : 19.00 s.d 21.00, Wib
Hari/Tanggal         : Jumat, 25 Maret 2022
Gelombang           : 23-24


"Pendidikan Akan Tumbuh dan Berkembang pada diri orang-orang mukhlisisn"


Pembelajaran dan Pelatihan Menulis PGRI sudah sampai pada tahap akhir, 30 kali kita bertemu di grup WA, sudah terasa seperti keluarga, tidak bersua dalam pembelajaran terasa rindu untuk bercakap, malam ini sesi terakhir belajar menulis dengan tema pelajaran Mengelola Taman Bacaan.

pertemanun terakhir ini dipandu dan diarahkan oleh ibu rosminiyati, juga penulis enerjik dari PGRI yang selalu menyapa dengan ramah, dan memuka sesi ini dengan menegadahkan tangan sembari berdoa kepada Allah SWT tuhan yang maha esa.

pematrei kita malam ini adalah Bapak Bambang Purwanto, S.Kom, Gr lahir di kota Bandung 6 April 1974 yang akrab disapa dengan Bram, pendidikan terakhir  S1 STMIK AMIK Bandung Jurusan Sistim Innformasi lulus tahun 2013, sehari hari disamping menulis juga bekerja sebagai guru di  sebuah sekolah yayasan, kemudian pak bram juga sebagai kreator yutube yang selalu membagi ilmu pengetahuan di dunia maya.

Pelatihan Belajar Menulis ini akan menajadikan peserta pelatihan menjadi penulis, setelah menulis dengan baik dan benar kemudian dijadikan buku,  dan setelah di cetak jadi buku maka perlu di dokumenkan di perpustakaan baik perpustakaan sekolah, daerah atau nasional, dan akan lebih baik kalau di titip di taman bacaan masyarakat agar buku yang ditulis bisa dibaca oleh masyarakat.

naah kalau begitu bagaimanakah cara mengelola Taman Bacaan itu, dan apa saja yang harus kita lakukan, maka pada sesi ini kita akan belajar tentang mengelola Taman Bacaan Masyarakat. kalau kita berbicara buku maka yang akan dilihat adalah penulis artinya buku itu identik dengan penulis dan yang dekat dengan penulis adalah refersnsi bacaannya, mencari referensi hari ini bisa melalui pustaka dan pustaka digital.

untuk memahami pustaka dalam bentu Taman Bacaan Masyarakat maka perlu kita lihat Taman Bacaan Msyarakat yang sudah direintis oleh Bapak Bram pada tahun 2011 dengan Nama TBMnya  Ayah Salwa.

Mengawali dengan mengumpulkan buku-buku yang dimiliki di rumah. Terkumpul ada sekitar 200 buku. Kami simpan di sebuah box. Setelah terkumpul, saya memilih tanggal yang sekiranya baik, maka kami lahirkan TBM Ayah Salwa pada tanggal 5 Oktober 2011. Berarti sekarang umumnya sudah masuk 10 tahun.

Nama Ayah Salwa digunakan sebagai nama TBM, dengan alasan menggunakan nama panggung kalau sedang mendongeng. Walau akhirnya di tahun 2012 TBM Ayah Salwa diganti dengan nama TBM AS Lebakwangi.

TBM AS Lebakwangi saat berdiri masih bergabung dengan rumah. Rumah mungil berukuran 21 meter peregi. Rumah yang terdiri dari Ayah Salwa, Ibu Salwa dan Salwa anak semata wayang. TBM AS Lebakwangi hadir karena kepedulian kepada anak-anak. Ayah Salwa sang pendongeng merasa perlu mengajak anak-anak untuk senang membaca. Awal berdiri tidaklah mudah. Tantangan dari pasangan pun menjadi tantang pertama yang harus dinegosiasi. Memberikan penjelasan kepada pasangan itu pun butuh perjuangan alias senyuman manis. hehe......

Pada Tahan Awal TBM AS Lebakwangi meyiapkan sebuah rak, dengan 3 trap. Rak pertama saya simpan koran dengan buku pengunjung. Rak kedua saya simpan 20 buku cerita anak-anak. Rak ketiga saya simpan majalah bobo sebanyak 20 buah. Setiap pagi saya simpan di teras. Rumah kami tanpa pagar. Anak-anak sangat mudah sekali menjamah buku yang kami simpan di teras. Rumah kami kosong, karena Ayah Salwa dan Ibu Salwa bekerja. Salwa saat itu usianya masih 8 tahun. Setiap pagi saya antarkan ke rumah Ibu, sehingga rumah kosong. Kini Salwa sedang kuliah semester 2 di UNPAS dengan Jurusan Kependidikan Bahasa Indonesia. Mohon doanya agar bisa menjadi guru yang disenangi anak-anak kelak.

Perjuangan membangun TBM saya melakukan pendekatan kepada tetangga, Ketua RT dan Ketua RW. Walau saat itu saya sedang menjabat sebagai Ketua RT, kini sih sedang menjabat Ketua RW 13 Lebakwangi Asri Desa Lebakwangi Kec Arjasari Kab Bandung.

perjuangan pak bram membangun Taman Bacaan TBM ini sangat luar biasa karena sudah mau membantu masyarakat untuk menambah wawsan memalui TBM disampaing tempat bermain wayang juga menjadi pustaka mini di keluarahan dengan nama yang bagus Taman Bacaan Masyarakat. kemdian TBM AS Lebakwangi merambah ke media sosial, pada tahap awal pak bram memasukkannya ke FB dan kemudian ke beberapa media sosial yang ada di dunia maya bahkan sudah memiliki konten yuteber. agar anak anak menarik untuk bisa membaca maka di TBM AS Lebak Wangi tidak langsung disuruh membaca akan tetapi melihat kegiatan wayang terlebih dahulu dan mengajak anak anak merefres diri mereka melalui tayangan vidio.

Dengan kerja keras dan kerja tuntas pak Bram maka TBM AS Lebakwangi ini menjadi TBM yang diminati dan disukai oleh masyarakat terutama anak anak, agar TBM ini tidak mati dan bisa terlaksana berkelanjutan maka Pak bram sudah melakukan kaderisasi, Bahkan kami memiliki 5 generasi yang pernah menjadi pengelola harian. Mereka kami berikan insentif. Mulai dari 100 ribu hingga yang terakhir 500 ribu. Dari mana uangnya ? awal dari pribadi, sampai akhirnya mendapatkan donatur karena mereka peduli dan melihat kegiatan di Facebook.

bagi pengiat TBM, semua anggota dan pengelola TMB adalah keluarga adalah tempat pengabdian. Tempat belajar untuk ikhlas, sabar dan senang dengan anak-anak. TBM tidaklah seseram Perpustkaan yang harus hening. Coba bayangkan anak-anak dengan riang membaca dengan bersahutan. Mereka tidak merasa terganggu. Bayangkan saat kita di perpusakaan sekolah misalnya, baru ngobrol sebentarnya saja langsung orang yang terdekat akan menatap tajam sembari sedikit mengeluarkan mata, heheh.

Interaksi dengan TBM lain membuat jaringan TBM menjadi kuat. Silaturahmi pegiat literasi memudahkan untuk saling menguatkan. Ini kegiatan benar-benar sosial, ngak ada duitnya. Untungnya adalah kebahagiaan yang bisa melihat anak-anak membaca buku, pinjam buku, cerita bersama , belajar komputer, belajar internet, belajar bernyanyi, membuat puisi, dan banyak kegiatan lainnya.

Tahun 2013 saya diberikan amanah sebagai Bupati. Maaf bukan Bupati pemerintahan Kabupaten Bandung, tetapi Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Bandung. Mendapatkan amanah sebagai Ketua FTBM Kab Bandung periode 2013-2017. Menjadi ketua sebuah organisasi pun tidaklah mudah, tidak dapat biaya operasional. Untuk roda organsasi tetap berjalan, harus membangun kemitraan dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Perpustakaan (saat itu di Kab Bandung, adalah BAPAPSI masih berupa Badan belum Dinas)

Prestasi yang diraih dalam pengelolaan TBM AS Lebakwangi adalah :
1. Terpilih sebagai Ketua Forum TBM Kab Bandung periode 2013-2017
2. Juara ke 1 TBM se Kab Bandung tahun 2013
3. Juara ke 2 TBM se Provinsi Jawa Barat tahun 2013
4. Juara ke 1 TBM se Kab. Bandang tahun 2014
5. Juara ke 1 TBM se Provinsi Jawa barat tahun 2014
6. Anugerah Sabilulungan Award tahun 2018 dari Bupati Kab. Bandung
7. Juara ke 1 TBM Teladan se Kabupaten Bandung 2019

Benar kata Pepatah Arab Man Jadda Wa Jadda, siapa yang sungguh pasti dia mendapat, atau bahasa kerennya "USAHA TIDAK MENGKHIANITI HASIL" maka oleh sebab itu niat ikhlas  untuk membantu cerdaskan masyarakat  diijabah oleh Allah SWT dengan membukakan hati masyarakat untuk selalu mau melakukan aktifitas positif di TBM AS Lebakwangi sehingga TBM AS Lebakwangi menjadi dambaan masyarakat terutama anak anak.
 



Penalaman baik yang dilakukan oleh Pak Bram mambu melejitkan dirinya menjadi tamu istimewa bagi pengiat literasi di kota Bandung.

kesimlulan 

sebagai pebgiat literasi yang sudah belajar menulis dengan PGRI dibawah Asuhan Om jay meruakan cikal bakal sebagai penulis diberbagai daerah yang ada di Indonesia, sebagai penulis tentunya kita harus mampu dan bisa membukukan tulisan kita di berbagai media dan kalau bisa kita jadikan buku yang bisa dipakai rujukan oleh orang lain.

sejalan dengan itu perlu juga kita membuat pustaka kecil dalam bentuk Taman Bacaan Masyarakat dilingkungan tempat tinggal kita atau kita membuat Taman Bacaan Digital yang menjadi tempat anak anak atau orang dewasa bercengrama dengan buku dan tulsan yang ada disana.

kemudian pada sesi akhir ini saya syamsurizal mengucapkan terima kasih kepada Om Jay dan Panitia Belajar Menulis PGRI yang sudah mau melayani kami serta memotivasi kami dalam kegiatan belajar, yang dimulai dari pertemuan pertama sampai pertemuan yang ke 30. sehingga walaupun tertatih-tatih melaksanakan kegiatan belajar menulis masih bisa mnegikutinya walaupun masih jauh dari baik tetapi setidaknya dengan kegiatan ini saya termotivasi untuk menjadi pengiat literasi. kemudian tak lupa saya juga ucapkan terima kasih kepada seluruh pemeatri yang sudah mau mencurahkan ilmu pengetahuan menulis kepada kami semoga Allah SWT memberikan balasan kepada Bapak dan ibu panitia, narasumber.

akhirnya apabila ada tulisan kami mengudara di blog dan di media ataupun dicetak menjadi buku maka kami mohon kritikan dan dan saran agar cara penulisan kami menjadi benar.

Syamsurizal
SMKN 3 Padang